Awal Mula Maulid Nabi, Rujukan Beberapa Sumber

 


Pandangan Khalifatul Masih V terkait Siratun Nabi :

Beliaua.s. bersabda lagi: “Apa yang Hadhrat Rasulullah saw telah tunjukkan teladan di dalam setiap pekerjaan, itulah yang harus kita ikuti. Untuk membuktikan seseorang benar-benar mukmin sejati cukuplah dengan membuktikan dengan nyata apakah Rasulullah telah melakukan hal demikian atau tidak? Jika tidak, apakah beliau telah menyuruh untuk melakukannya? Hadhrat Ibrahim a.s. adalah datuk moyang beliau dan beliau a.s. patut dijunjung dan dihormati. Apa sebabnya beliau tidak menyuruh mengadakan peringatan maulid datuk (kakek) moyang beliau  yaitu Nabi Ibrahim a.s.? Rasulullah saw tidak pernah merayakan hari kelahiran Nabi Ibrahim a.s..

Pendeknya pada hari maulud (kelahiran) Nabi Muhammad saw, mengadakan peringatan atau perayaan atau mengadakan jalsah milad atau maulud tidak dilarang, dengan syarat di dalamnya tidak boleh dilakukan suatu perbuatan bid’ah. Di dalam perayaan itu semata-mata diceritakan berbagai aspek dari sirat atau riwayat hidup Hadhrat Rasulullah saw, tidak hanya setahun sekali menguraikan sirat atau riwayat hidup beliau saw itu bahkan sepanjang tahun kita boleh bahkan harus mengadakan jalsah siratun Nabi. 

Seperti itulah yang dilakukan oleh Jama’at Ahmadiyah. Jema’at Ahmadiyah di seluruh dunia selalu mengadakan Jalsah Siratun Nabi pada setiap kesempatan, tidak terikat oleh waktu yang tertentu. Akan tetapi jika secara khusus mengadakan Jalsah Siratun Nabi pada waktu yang ditetapkan, lalu mengadakan jalsah atau pertemuan untuk menguraikan kisah atau riwayat Hadhrat Rasulullah saw mengenai akhlaq fadillah beliau dan sebagainya, jika diadakan di seluruh negara atau di seluruh dunia, maka tidak dilarang. Akan tetapi di dalamnya tidak boleh ada perbuatan bid’ah. 

Sabda Khalifatul Masih V, Siapa Awal Mula Mengadakan Maulid nabi? 

orang yang memulai menganjurkan untuk memperingati atau merayakan Miladun Nabi itu adalah Abdullah Muhammad Bin Muhammad Abdul Ghada. Yang para pengikutnya disebut Fathimi. Mereka menisbahkan diri berasal dari keturunan Hadhrat Ali r.a.. Dan mereka termasuk dalam kelompok madzhab Bathini. Madzhab Bathini ini percaya bahwa sebagian dari pada Syariat itu ada yang zahir atau tampak dan sebagian lagi tidak tampak atau tersembunyi. Menurut mereka dengan cara menipu, memukul atau membunuh para penentang juga diperbolehkan. Banyak lagi hal-hal yang menyimpang yang menunjukkan banyak sekali bid’ah-bid’ah yang terdapat di dalam ajaran madzhab mereka itu yang dinisbahkan kepada kitab mereka.

Jadi, orang-orang pertama yang melakukan perayaan Miladun Nabi adalah orang-orang yang tergabung di dalam madzhab Bathini ini. Dan cara yang mereka lakukan itu benar-benar bid’ah yang telah dibawa masuk ke dalam ajaran Islam yang sejati. Madzhab ini terdapat di dalam pemerintahan Mesir (Egypt) pada tahun 362 Hijriah. Selain dari memperingati Miladun Nabi, mereka membuat peringatan atau perayaan lainnya lagi, misalnya yaumi asyura, miladun Nabi, milad yakni hari kelahiran Hadhrat Ali, milad, hari kelahiran Hadhrat Hasan, milad Hadhrat Husain, milad Hadhrat Fathimah Az Zahra. Mereka merayakan hari pertama dan hari pertengahan bulan Rajab, merayakan hari pertama dan pertengahan bulan Sya’ban, malam khataman Qur’an dan perayaan bermacam-macam di dalam bulan Ramadhan, banyak sekali perayaan-perayaan yang mereka lakukan, yang telah menjadikannya bid’ah-bid’ah di dalam Islam

Pandagan Hadhrat Masih Mauud as Tentang Maulid Nabi 

Sebagaimana telah saya katakan bahwa di antara orang-orang Islam ada juga beberapa golongan atau kelompok Islam yang tidak sepaham dengan melakukan perayaan miladun nabi ini. Banyak firqah atau golongan yang sama-sekali tidak melakuan perayaan Miladun Nabi. Dan mereka menyatakan “bid’ah” terhadap perayaan Miladun Nabi ini. Ada pula kelompok lain di dalam Islam yang melakukannya secara berlebih-lebihan. Bagaimanapun kita akan tengok sabda Imam Zaman sekarang ini yang telah diutus oleh Allah Swt sebagai Hakaman Adalan, bagaimana pendapat dan nasihat beliau tentang Miladun Nabi ini

Seseorang telah bertanya kepada Hadhrat Masih Mau’ud a.s. tentang Miladun Nabi, di dalam jawabannya beliau bersabda: “Mengenang dan membicarakan tentang wujud Hadhrat Rasulullah saw adalah pekerjaan yang sangat baik sekali. Bahkan menurut riwayat hadits, mengenang dan membicarakan tentang para Nabi atau para wali Allah [maka] rahmat Tuhan turun kepada mereka dan bahkan Allah Swt Sendiri menganjurkan untuk mengenang dan menyebut-nyebut para nabi-Nya. Akan tetapi jika membicarakan nabi itu disertai bid’ah-bid’ah yang menyelubungi Tauhid Ilahi, maka tidak diperbolehkan. Tempatkanlah keagungan Tuhan bersama Tuhan dan keagungan Nabi bersama Nabi. Para Maulvi (ulama) zaman sekarang lebih banyak menggunakan kata-kata berbau bid’ah dan bid’ah-bid’ah itu bertentangan dengan kehendak Allah Swt. Jika memperingatinya tidak disertai dengan bid’ah namun hanya dengan nasihat atau ceramah, jika di dalam acara itu diterangkan mengenai kebangkitan Rasulullahsaw, mengenai kelahiran beliau atau mengenai wafat beliausaw maka hal itu akan mendapat ganjaran dari Allah Swt. Kita tidak merasa perlu untuk menyusun sebuah peraturan atau sebuah kitab tentang itu. 

Namun pada masa sekarang ini khususnya di Pakistan maupun di Hindustan, peringatan miladun nabi itu sudah menyimpang dari maksud semula yang menjelaskan sirat atau riwayat Nabi Muhammadsaw, melainkan sudah campur-baur dengan cerita politik. Atau perayaan itu digunakan untuk melemparkan tuduhan-tuduhan satu golongan kepada golongan lain. Perayaan apa pun yang dilakukan di Pakistan, mula-mula menceritakan sedikit sirat atau kehidupan Nabi kemudian disambung dengan caci maki yang berlebihan dan kata-kata nonsens serta kotor terhadap wujud suci Hadhrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s.. Dan mereka membuat nama beliau jadi sasaran perolokan dan penghinaan [0]


Rangkaian Peristiwa Maulid Nabi Bermula

1. Dinasti Fatimiyah di Mesir (Abad ke-10 M / ke-4 H)

Banyak sejarawan Islam, termasuk Al-Maqrizi, sepakat bahwa Dinasti Fatimiyah merupakan pencetus pertama perayaan resmi Maulid Nabi. Dinasti yang beraliran Syiah Ismailiyah ini memindahkan pusat pemerintahannya ke Kairo, Mesir, pada tahun 973 M. [1]
  • Karakteristik Perayaan: Maulid dirayakan sebagai bagian dari festival resmi istana. Perayaan ini awalnya bersifat elitis dan tertutup bagi kalangan pemerintahan saja. [2]
  • Tujuan Politik & Keagamaan: Fatimiyah mengklaim keturunan langsung dari Fatimah az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib. Oleh karena itu, perayaan Maulid digunakan untuk menegaskan legitimasi kekuasaan mereka. Selain Maulid Nabi, mereka juga merayakan "Enam Maulid" lainnya, termasuk Maulid Ali bin Abi Thalib, Fatimah, Hasan, Husain, dan khalifah yang sedang berkuasa saat itu. [3]
2. Dinasti Ayyubiyah & Kesultanan Irbil (Abad ke-12 M / ke-6 H)
Setelah jatuhnya Dinasti Fatimiyah, tradisi ini diambil alih dan dimodifikasi secara besar-besaran oleh kalangan Islam Sunni. Dua tokoh sentral dalam fase ini adalah Sultan Salahuddin Al-Ayyubi (pendiri Dinasti Ayyubiyah) dan iparnya, Raja Muzhaffar Abu Said Al-Kukabri (Gubernur Irbil di Irak). [4]
  • Sebagai Pemantik Semangat Jihad: Sultan Salahuddin Al-Ayyubi mempopulerkan perayaan Maulid Nabi ke seluruh lapisan masyarakat untuk menggalang persatuan umat Islam yang kala itu terpecah belah. Momen ini dipakai guna membangkitkan militansi dan semangat juang kaum Muslim dalam menghadapi Perang Salib. [5]
  • Perayaan Publik Besar-besaran: Di bawah pemerintahan Raja Muzhaffar di Irbil, perayaan Maulid dikemas secara megah, terbuka, dan melibatkan rakyat jelata. Beliau mengundang para ulama, ahli fikih, dan sastrawan untuk membaca puisi-puisi pujian bagi Nabi (seperti teks-teks syair), menyembelih ribuan hewan ternak untuk sedekah bumi, serta mengadakan pengajian massal. [6]


Sumber : 
[0] Khutbah Jumat, April 2009 / Memperingati Siratun Nabi
[1] https://lazisnur.id/sejarah-maulid-nabi-muhammad-saw/
[2] https://kabkutaitimur.baznas.go.id/berita/news-show/sejarah-maulid-nabi-perjalanan-tradisi-memuliakan-kelahiran-rasulullah/25938
[3] https://pontianakpost.jawapos.com/ragam/2608240049/sejarah-maulid-nabi-dari-fatimiyah-yang-disebut-berafiliasi-dengan-syiah-hingga-tradisi-nusantara
[4]https://www.sarungatlas.co.id/post/article/penyebaran-dan-perkembangan-tradisi-maulid-nabi-setelah-dinasti-fatimiyah
[5]https://alamisharia.co.id/blogs/momen/sejarah-hingga-dalil-peringatan-maulid-nabi/
[6]https://www.ums.ac.id/berita/mimbar/maulid-nabi-muhammad-asal-usul-dan-maknanya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kesbangpol Terbitkan SK Keberadaan Jemaat Ahmadiyah Di Kota Palangka Raya

Peringati 100 th JAI, Ahamdiyah Kalimantan Tengah Dan Selatan Gelar Jalsah Salanah, Seabad Penuh Cinta Dan Perdamaian

Bukan Sekedar Gerhana Bulan Dan Matahari, 1894 M / Ramadhan 1311 H