Kesemarakan Siratun Nabi Saw, Teladan Suci Membangun Keharmonisan Di Tengah Umat Beragama

Anggota menyimak materi Siratun Nabi, 12 September 2026

(12/9) - Palangka Raya, secara historis  perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW tidak bermula pada masa hidup Rasulullah maupun para sahabat. Tradisi ini lahir beberapa abad kemudian melaui dua dinasti besar yang memiliki motif keagamaan, sosil, politik yang berbeda.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW diperingati tiap tanggal 12 Rabiul Awal dalam kalender Hijriah sebagai wujud syukur dan cinta kasih umat Islam kepada Rasulullah. Banyak dari kalangan umat muslim beragam cara untuk memperingatinya. Salah satu dari antaranya adalah Jemaat Ahmadiyah senantiasa mengadakan Siratun Nabi sebagai bentuk mengingatkembali sepak terjang dan riwat hidup Nabi Saw.


Khalifah Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad ATBA bersabda bahwa setiap ahmadi hendaknya mengadakan Siratun Nabi setiap hari, hal ini dikarenakan setiap detik kehidupan Rasulullah Saw merupakan tarbiyat dan ta'lim bagi kehidupan sehari-hari. Pada hakikatnya bukan sekedar merayakan Siratun Nabi di hari-hari tertentu lalu berlalu begitu saja, namun hendaknya selalu diingat dan diamalkan setiap hari dari Siratun Nabi ini.

Jemaat Ahmadiyah Palangka Raya telah mengadakan acara Siratun Nabi di Masjid Nurul Khilafat, Sabtu 12 September 2026. Acara berjalan dengan lancar dan para anggota menyimak secara antusias dari pemaparan materi ini.

Tema yang menjadi topik utama pada acara ini adalah "Teladan Mulisa Rasulullah Saw Dalam Membangun Keharmonisan Seluruh Umat Beragama". 

Narasumber mengatakan bahwa Nabi Saw menetapkan enam rukun iman sebagai syarat mutlak bagi seseorang yang ingin masuk islam. Dari keenam rukun itu diantara mengimani para kitab-kitab dan para rasul. Hal ini mengajarkan bahwa umat uslim haru mengimani para nabi utusan Allah terdahulu, baik dia mengetahui nabi itu ataupun tidak sama sekali, hal ini akan memberikan kesan keimanan sempernu dan mengharga umat beragama lainnya.

"Adanya perjanjian hudaibiyah, perjanjian najran dll, ini memperlihatkan betapa adilnya dan damainya ajaran yang Nabi Saw terapkan. Dengan dirumuskannya perjanjian-perjanjian seperti itu memberikan kesan positif dan rasa aman bagi setiap kalangan agama pada saat itu, serta memberikan peluan kemajuan bagi agama islam".

Di pertengahan acara dibuka sesi tanya jawab yang berlangsung sangat interaktif. Setiap pertanyaan diterima dengan baik dan anggota lain saling memberikan jawaban dari sudut pandang masing-masing. Forum seperti ini sangat membantu membentuk karakter kritis dan responsif dalam berdiskusi.

Di akhir acara, rangkaian kegiatan ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Mubalgih setempat.


GALERI






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kesbangpol Terbitkan SK Keberadaan Jemaat Ahmadiyah Di Kota Palangka Raya

Peringati 100 th JAI, Ahamdiyah Kalimantan Tengah Dan Selatan Gelar Jalsah Salanah, Seabad Penuh Cinta Dan Perdamaian

Bukan Sekedar Gerhana Bulan Dan Matahari, 1894 M / Ramadhan 1311 H