Refleksi Diri Dengan Siratun Nabi Saw; Teladan Rasulullah Saw Dalam Masa-Masa Sulit



(12/9) Palangka Raya - Rabi'ul Awwal merupakan bulan yang dikenal sebagai bulan kelahirannya Nabi Muhammad Saw. Setiap tahunnya umat muslim mengadakan acara Maulid Nabi Saw sebagai bentuk refleksi diri atas akhlak fadilah dan kecintaan kepada Rasulullah Saw. Berbagai ceramah disampaikan terkait sejarah perjalanan hidup Rasulullah Saw dan perkembangan islam sejak agama minoritas hingga menjadi agama mayoritas.



Jemaat Ahmadiyah dalam menggelar acara ini biasa menggunakan kata Siratun Nabi Saw karena makna Sirat itu sendiri lebih relefan untuk merangkum sejarah hidup Nabi Saw (Sirat/Sirah artinya biografi, perjalanan hidup atau sejarah hidup seseorang). Disamping itu di dalam Jemaat Ahmadiyah tidak ada tradisi seperti perayaan ulang tahun kelahiran seseorang karena Nabi Baginda Rasulullah Saw sendiri pun tidak pernah mengamalkannya. Inilah landasan mengapa Ahmadiyah sering menggunakan kata Siratun Nabi Saw.

      (Foto: Tilawat Al-Quran)

Pembukaan dimulai dengan tilawat Al-Quran dan dilanjutkan lantunan Qosidah sanjungan Nabi Muhammad Saw karya Hz.Masih Mauud as. Kemudian penyampaian materi oleh Mubaligh setempat. Tema yang diusung malam ini adalah "Keteladanan Rasulullah Saw Menghadapi Masa-Masa Sulit Dalam Kehidupan". Acara ini dihadiri 30 anggota dan seorang simpatisan. Rangakaian acara berjalan dengan khidmat dan diiringi hujan menambah suasana semakin larut.


   (Foto: Penyampaian Qosidah karya Hz.Masih Mauud as)

Dalam keteladanan Rasulullah Saw menempuh masa-masa sulit tentunya para sahabat mengetahui bahwa tidak ada seseorang pun yang dapat melebihi kesulitan dan musibah yang beliau saw alami. Untuk itu Allah SWT berfirman :

"Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (hanya dengan) berkata, “Kami telah beriman,” sedangkan mereka tidak diuji?" [QS.Al-Ankabut : 3]

Terkait ayat ini Hz.Masih Mauud as menafsirkan bahwa untuk menyempurnakan suatu keimanan perlu mengalami cobaan terlebih dahulu. Perhatikanlah para Nabi as di zaman dahulu mereka mendapatkan begitu banyak penderitaan. Hadhrat Rasulullah saw begitu menderita ketika hidup di Mekah. Ketika beliau di Thaif sering dilempari batu dan bercucuran darah hingga beliau bersabda bahwa "Wahai Tuhanku, aku akan bersabar atas penderitaan ini selama Engkau ridho".

   (Foto: bersama simpatisan, mas ihsan)


Di sesi kedua yaitu sesi tanya-jawab, :
1. Kenapa Jemaat Ahmadiyah menggunakan kata siratun nabi, bukan maulid nabi? dan siapa mengawali maulid nabi diadakan?

Jawabnya : 

Abad Islam yang terkenal paling baik adalah permulaan berdirinya Agama Islam sampai tiga abad berikutnya, yang disebut tiga abad terbaik. Didalam abad-abad itu terdapat orang-orang yang sangat mencintai Hazrat Rasulullah saw. Kecintaan mereka terhadap Hazrat Rasulullah saw sangat tinggi derajatnya. Beliau-beliau itu mengetahui banyak sekali sunnah-sunnah Rasulullah saw. Dan beliau-beliau itu sangat patuh sekali melaksanakan syari’at Agama Islam. Sekalipun demikian pada zaman beliau-beliau itu yakni zaman para sahabah dan juga pada zaman para tabi’in yakni orang-orang yang berjumpa dan bergaul dengan para sahabah, tidak terdapat riwayat adanya perayaan atau peringatan Miladun Nabi. Padahal, sebagaimana telah saya katakan, bahwa beliau-beliau itu sangat mencintai dan sangat mematuhi sunnah-sunnah Hazrat Rsulullah saw. 

Dikatakan bahwa orang yang memulai menganjurkan untuk memperingati atau merayakan Miladun Nabi itu adalah Abdullah Muhammad Bin Muhammad Abdul Ghada. Yang para pengikutnya disebut Fatmi. Mereka menisbahkan diri berasal dari keturunan Hazrat Ali r.a. Dan mereka termasuk dalam kelompok mazhab Bathini. Mazhab Bathini ini percaya bahwa sebagian dari pada Syari’at itu ada yang zahir atau nampak dan sebagian lagi tidak nampak atau tersembunyi. Menurut mereka dengan cara menipu memukul atau membunuh para penentang juga diperbolehkan. Banyak lagi hal-hal yang menyimpang yang menunjukkan banyak sekali bid’ah-bid’ah yang terdapat didalam ajaran mazhab mereka itu yang dinisbahkan kepada kitab mereka.  

Jadi, orang-orang pertama yang melakukan perayaan Miladun Nabi adalah orang-orang yang tergabung didalam mazhab Bathini ini. Dan cara yang mereka lakukan itu benar-benar bid’ah telah dibawa masuk kedalam ajaran Islam yang sejati. Mazhab ini terdapat didalam pemerintahan Mesir (Egypt) pada tahun 362 Hijrah. Selain dari memepringati Miladun Nabi mereka membuat peringatan atau perayaan lainnya lagi, misalnya yaumi asyura, miladun Nabi, milad yakni hari kelahiran Hazrat Ali , milad, hari kelahiran Hazrat Hasan, milad Hazrat Husen, milad Hazrat Fatimah Az Zahra. Mereka merayakan hari pertama dan hari pertengahan bulan Rajab, merayakan hari pertama dan pertengahan bulan Sya’ban, malam khataman Qur’an dan perayaan bermacam-macam didalam bulan Ramadhan, banyak sekali perayaan-perayaan yang mereka lakukan, yang telah menjadikannya bid’ah-bid’ah didalam Islam. 

(Ref.Khotbah Jumat, 13 Marer 2009, Memperingati Siratun Nabi: Kehidupan Suci Rasulullah Saw)

 
Galeri
.






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peringati 100 th JAI, Ahamdiyah Kalimantan Tengah Dan Selatan Gelar Jalsah Salanah, Seabad Penuh Cinta Dan Perdamaian

Kesbangpol Terbitkan SK Keberadaan Jemaat Ahmadiyah Di Kota Palangka Raya

Kunjungi Mushola Ahmadiyah :Tim Bakorpakem Serta Tokoh Masyarakat Berdialog Terbuka Dengan Pengurus JAI Pangkoh