Teladan Nabi Saw Dalam Melaksanakan Shalat Di Sepertiga Malam
يٰٓاَيُّهَا
الْمُزَّمِّلُۙ - قُمِ الَّيْلَ اِلَّا قَلِيْلًاۙ - نِّصْفَهٗٓ اَوِ انْقُصْ
مِنْهُ قَلِيْلًاۙ - اَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْاٰنَ تَرْتِيْلًاۗ -
اِنَّا سَنُلْقِيْ عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيْلًا - اِنَّ نَاشِئَةَ الَّيْلِ هِيَ
اَشَدُّ وَطْـًٔا وَّاَقْوَمُ قِيْلًاۗ -
“(2) Hai orang yang berselimut. (Nabi Muhammad), (3) Berdirilah untuk shalat waktu malam, kecuali sedikit, (4) Setengahnya atau kurangi lebih sedikit darinya, (5) Atau tambahkan atasya, dan Basalah Al-Quran dengan pembacaan yang baik, (6) Sesungguhnya Kami segera akan melimpahkan kepada engkau firman yang berbobot, (7) Sesungguhnya bangun di waktu malam untuk shalat Adalah lebih kuat untuk menguasai diri dan lebih ampuh untuk berbicara.” (QS.Al-Muzzammil : 2-7)
Ini merupakan perintah Al-Quran yang turun kepada Rasulullah saw dan beliau telah memenuhi hak /tuntutan ayat ini bahkan sebelum pendakwaan atau sebelum kenabian pun beliau biasa melakukan i'tikaf seperti itu dalam pencaharian terhadap Allah. Daripada melewatkan malam-malam yang beliau lalui dengan bersenang -senang dan dengan melampiaskan hobi atau kesenangan, beliau melewatkan malam-malam itu dalam beribadah kepada Allah. Melakukan ibadah di malam-malam hari tatkala malam tengah sunyi senyap, kesunyaian tengah menyelimuti di segala penjuru, tidak ada sesuatu benda corak apapun yang dapat menciptakan penghalang diantara Allah dan hamba, tidak ada sesuatu yang menjadi penghalang dalam pembicaraan cinta dan ketulusan diantara Allah dan hamba, pada waktu itulah orang-orang yang beribadah pada Allah pasti mereka merupakan orang yang mendapat kedekatan Allah dan merupakan orang yang meraih kecintaan-Nya. Sebab, benar-benar untuk meraih kedekatan Allah dia melakukan ibadah ini.
Oleh karena itu Allah berfirman bahwa, bangun pada waktu malam seperti itu sama dengan menguasai hawa nafsunya. Bahkan ini merupakan senjata yang sedemikian ampuh untuk melenyapkan syaitan dan merupakan senjata yang sedemikian ampuh untuk mengendalikan jiwa atau hawa nafsu yang sama sekali tidak bisa ditandingi.
Ikatan perjanjian pada saat itu sedemikian mantap dan teguhnya yang tidak mungkin untuk dapat diputuskan. Di dalam itu syaitan sama sekali tidak mungkin ikut campur dan sama sekali syaitan tidak dapat ikut serta di dalamnya. Seolah-olah untuk menjadi hamba yang tulus dan untuk menghancur luluhkan hawa nafsu tidak ada sarana yang lebih baik dari itu yaitu bangun malam hari lalu melakukan ibadah di dalamnya. Dan standar/mutu ibadah yang tinggi ini adalah hanya nabi kita saw yang paling banyak meraihnya. Bahkan daya pensucian beliau itu telah menciptakan di dalam diri ummat beliau juga orang-orang yang bangun di malam hari. Di akhir ayat surah Al-Muzzammil Allah menegaskan perbuatan Nabi saw dan para pengikutnya bahwa di bagian 2/3 malam atau di bagian setengahnya atau dari segi waktu pada bagian yang ketiga engkau (Hai Muhammad saw) telah menegakkan standar ibadah yang tinggi, engkau telah menunaikan hak ibadah. Allah memberikan kesaksian tentang mereka. Bahkan Dia memberikan kesaksian juga tentang orang-orang yang berjalan mengikuti langkah-langkah beliau; dan mereka senantiasa gelisah untuk megamalkan hukum-hukum itu. Maka inilah kesaksian Allah berkenaan dengan Rasul yang dicintai-Nya yang diberikan petunjuk bahwa bangunlah untuk beribadah dan teguhkanlah dirimu juga di dalam doa-doa malam-malam yang gelap gulita dan jadilah engkau benteng bagi ummat engkau. Di dalam hal itu beliau tidak hanya memenuhinya bahkan beliau menegakkan standar yang tinggi dan telah memenuhi haknya. Di tempat lain terdapat juga kesaksiannya seperti itu. Bersabda:
الَّذِيْ
يَرٰىكَ حِيْنَ تَقُوْمُ ٢١٨ وَتَقَلُّبَكَ فِى السّٰجِدِيْنَ ٢١٩
“Yang tengah melihatmu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang), dan (melihat pula) keresahanmu di antara orang-orang yang melakukan sujud.”(QS.Asy-Syuara 219-220 )
Jadi
seorang yang Allah telah berikan pengakuan bahwa dari semua orang-orang yang
melakukan sujud tidak ada orang yang melakukan sujud dengan resah seperti
engkau. Ketika engkau berdiri maka berdirinya engkau untuk beribadah juga adalah demi untuk Tuhan dan untuk ibadah. Dan tatkala engkau dalam sujud
pun maka itupun hanya untuk Tuhan dan
hanya untuk Tuhan semata,untuk tunduk
dihadapan-Nya; untuk meraih belas
kasih-Nya; untuk diri engkau juga dan
untuk ummat engkau juga. Maka berkenaan dengan orang seperti itu siapa
yang bisa mengatakan
bahwa dia mengejar kelezatan dunia
atau bisa terjadi seperti itu.
Hadhrat Masih Mauud
a.s bersabda: Nabi kita saw hanya menyukai duduk tafakkur dan duduk
menyendiri. Untuk menjalankan ibadah beliau saw biasa pergi jauh dari
orang-orang di sebuah goa bernama goa Hira.
Goa ini sedemikian rupa menakutkan sehingga tidak ada manusia yang berani pergi ke
sana. Tetapi beliau menyukainya supaya orang yang ketakutan mati-matian pun
tidak akan sampai disana. Beliau benar-benar ingin hidup menyendiri. Beliau
sama sekali tidak menginginkan kemasyhuran. Tetapi tiba-tiba datang perintah
Allah
Tertera
dalam sebuah riwayat ummulmu'minin
Hadhrat Aisyah r.a meriwayatkan: “Rasulullah saw sebelum dibangkitkan biasa
pergi sendirian dengan membawa sedikit bekal. Dengan membawa sedikit makanan dan minuman beliau pergi ke goa yang bernama Hira lalu sambil beribadah beliau beriktikaf. Disana sampai beberapa malam beliau lewatkan
dalam bribadah dan kemudian apabila bekal beliau habis
maka beliau kembali kepada Hadhrat Khadijah r.a dan kemudian beliau mengambil bekal lagi dan kemudian
setelah menyendiri beliau
berdzikir kepada Allah". (HR.Bukhari
Kitab badaul wahyi)
Hadhrat
Abdullah bin Mas'ud r.a meriwayatkan :" Pada suatu saat Rasulullah saw
sedang melakukana salat di Baitullah, di
saat mana Abu Jahal dan
kawan-kawannya sedang duduk-duduk
disana. Dalam keadaan seperti
itu seorang berkata, siapa diantara
kalian yang akan membawa usus unta si
fulan untuk dipikulkan di antara kedua
pundak Muhammad (saw ) ketika dia sedang melakukan sujud. Sesuai dengan itu
seorang yang paling bernasib malang
berdiri dari mereka lalu mengangkat usus
peranakan untu betina lalu mulai saat itu terus menunggu sampai pada saat Rasulullah saw tengah melakukan sujud dan mereka meletakkan usus
unta itu diantara dua pundak beliau. Perawi menuturkan bahwa saya terus
melihat mereka semua yang tengah melakukan semua ini,tetapi saya tidak dapat berbuat apa-apa. Wahai kiranya saya mempunyai kekuatan untuk menahan
mereka dari perbuatan malang itu. Kemudian
sesudah melakukan itu orang-orang itu sambil tertawa menjatuhkan dirinya di atas satu dengan yang lainnya sementara
Rasulullah saw terus menerus dalam
sujud beliau. Beliau terus
tidak mengangkat kepala beliau hingga
Hadrat Fatimah datang kepada beliau saw
dan menurunkan usus unta itu dari
punggung beliau saw. Maka Rasulullah saw
mengangkat kepala beliau. Kemudian
Rasulullah saw tiga kali bersabda:
"Hai Allah ! hukumlah orang-orang Quraisy itu dan doa buruk inipun
sangat tidak berkenan di hati mereka.
Sebab mereka mengetahui doa Hudhur
dikabulkan. Kemudian sambil menyebut nama-nama mereka beliau memanjatkan doa. Hai Allah saya memohon kepada Engkau untuk menghukum Abu
Jahal, Utbah bin Rabiah, Syaibah bin Rabiah, Walid bin Uqbah, Umayyah bin
Khalaf dan utbah bin Abi Mu'iith. Maka
perawi mengatakan bahwa Rasulullsh saw
juga menyebut nama orang yang ketujuh tetapi saya tidak ingat. Tetapi
singkatnya inilah riwayat perawi bahwa demi Zat yang ditangan kekuasaan-Nya
jiwaku berada, orang –orang yang
Rasulullah saw hitung saya menyaksikan mereka saat jatuh di sumur Badar setelah
terbunuh. (HR.Bukhari Kitabul Wudhu bab idza ulqia 'ala zhahrilmushalla)
Jadi,
pemandangan pengabulan doa ini hanya dapat diperlihatkan oleh para kekasih
Allah. Apakah ada orang yang tenggelam
dalam kesibukan-kesibukan urusan dunia dapat memperlihatkan mu'jizat seperti ini
? Dalam waktu yang singkat nampak
semuanya terlihat menjadi sempurna.
Kemudian
Rasulullsh saw sendiri dalam menyebut
keinginan hati beliau yang mendalam
bersabda: " Allah telah menjadikan setiap nabi mempunyai keinginan dan
keinginan saya adalah beribadah di malam hari". (Al-Mu'jam kabir littibrani jilid 12
hal 84)
Kemudian
kita melihat juga bahwa dalam ibadat di
malam hari ini juga beliau telah
menegakkan standar yang tertinggi yang
tidak dapat diketemukan contohnya. Berkaitan dengan itu terdapat kesaksian
Hadhrat Aisyah r.a. Apabila kepada beliau dipertanyakan keadaan/status shalat
tahajjud Rasulullah saw maka bersabda: Hudhur saw di bulan Ramadhan atau selain
hari-hari lainnya beliau tidak melakukan shalat lebih dari sebelas rekaat
tetapi sedemikian rupa panjang, cantik dan indahnya shalat beliau sehingga kalian jangan
menanyakan akan panjang,indah dan
keistimewaan shalat. Yakni saya sama sekali tidak ada kata-kata yang dari itu
saya dapat memberikan contoh mengenai gambaran keindahan shalat itu. (HR.Bukhari
Kitabul Jumaah bab Qiyamunnabi bi lailin
fi Ramadhaan)
Hadhrat
Auf bin Malik bin Asjai
meriwayatkan: Pada suatu malam saya mendapat taufik beribadah bersama-sama
Rasulullah saw . Beliau pertama membaca surat Al-Baqarah. Tidak lewat dari ayat
yang menyebut mengenai rahmat tetapi di
sana beliau berhenti untuk berdoa dan
tidak lewat dari ayat yang menyebut mengenai azab tetapi disini beliau berhenti untuk berdoa
memohon perlindungan. Kemudian
beliau rukuk seperti lamanya
berdiri. Yakni seberapa lama
berdiri sambil membaca Al-Quran seperti itulah lamanya beliau rukuk, yang
dimana di dalamnya beliau membaca tasbih
dan pujian. Kemudian seperti lamanya berdiri beliau melakukan sujud. Di dalam
sujud pun inilah tasbih dan doa yang terus beliau baca. Kemudian setelah
berdiri, beliau membaca surah Ali Imran. Kemudian sesudah itu dalam setiap
rekaat satu satu surah yang beliau baca.
(HR.Abu Daud kitabusshalat bab
fiddua ma yaquulurrajulu fi rukuu'ihi wa sujuudihi)
Jadi,
membaca dengan terhenti terhenti ini, membaca sambil faham betul isi
kandungan, membaca sambil berdoa pada saat disebutkan ayat
yang menyangkut rahmat dan azab, kemudian Rasulullah saw membaca sambil memohon perlindungan lalu merenungkan seperti itu
kemudian memohon perlindungan, terhenti dan berfikir
/merenungkan pun bukanlah merupakan hal yang biasa-biasa saja. Doa-doa ini dan
renungan ini pun merupakan standar yang
sangat tinggi yang mana untuk sampai
pemikiran manusia ke arah itupun
merupakan hal yang sangat sulit. Oleh karena itulah Hadhrat Aisyah
bersabda, "janganlah bertanya pada saya tentang keindahan shalatnya, itu sama sekali tidak bisa diterangkan (dengan sempurna.)
Kemudian Hadhrat Huzaifah bin Yaman meriwayatkan. Berkenaan dengan beliau dikatakan bahwa beliau ini merupakan sahabah karib Rasulullah saw yang mengetahui keadaan Rasulullah saw. Pada suatu malam beliau shalat bersama /shalat di belakang Rasulullah saw. Ketika beliau memulai shalat maka beliau mengatakan:
الله
اكبر ذوالملكوت والجبروت والكبرياء والعظمة
-allaahu akbar dzul malakuuti wal jabaruut wal kibriyaai wal' azhmah-
Artinya
: “Allah Maha besar, yang memiliki kekuasaan yang memiliki kekuatan dan kebesaran serta memiliki keagungan.”
Kemudian beliau membaca seluruh surat Al-Baqarah. Kemudian beliau melakukan ruku' yang lamanya sama dengan berdiri. Kemudian beliau sujud yang sama dengan berdiri. Kemudian beliau sujud yang sama dengan berdiri. Kemudian diantara dua sujud beliau mengatakan:
رب
اغفر لى
رب اغفر
لى
-rabbigfirli rabbigfirli-
Artinya : “Hai Allah ampunilah aku,hai Allah ampunilah aku”
Sedemikian lama beliau duduk sebagaimana
lamanya beliau bersujud. Kemudian di dalam rekaat-rekaat yang lainnya beliau membaca surah-surah yang paanjang seperti surah Ali Imran, An-Nisa' Al-Maidah, An'am
dll . (HR.Abu Daud. Kitabushasalat ma Yaquulurrajulu fi rukuihi wa sujudihi)
Jadi lihatlah inilah mutu ibadah beliau saw.
Oleh karena itu di dalam riwayat tertera
bahwa karena lamanya beliau berdiri kaki beliau biasa menjadi bengkak. Sebagaimana Hadhrat Aisyah
meriwayatkan bahwa pada malam hari
Rasulullah saw sedemikian lama melakukan
shalat sehingga kaki beliau menjadi
bengkak dan menjadi pecah-pecah. Pada suatu kali saya ,katanya,bertanya pada beliau
ya Rasul Allah ! Kenapa Tuan begitu menyusahkan diri sedangkan Allah telah memaafkan semua
dosa-dosa Tuan yang akan dan yang telah
lalu. Maka beliau menjawab;
ا
فلا احب ان اكون عبدا شكورا
-afala
uhibbu an akuna 'abdan syakuura-
Artinya : “Apakah saya tidak boleh menjadi hamba Allah yang tahu berteima kasih?” (HR. Bukhari, Kitabuttafsiir suratul fatah)
Kemudian tertera sebuah riwayat Hadhrat
Sauda'. Beliau adalah seorang perempuan yang sangat saleh dan sangat sederhana.
Pada suatu malam beliau juga menginginkan untuk ikut shalat tahajjud pada saat
giliran beliau . Dan dengan Hudhur saw beliau
ikut dalam shalat. Tidak diketahui berapa lama beliau dapat bersama sama
melakukan shalat tetapi dalam
kesederhaan beliau pada siang hari
beliau memberikan komentar akan panjangnya shalat itu yang
dari itu Hudhur sangat senang. Beliau berkata ,ya Rasulullah pada malam hari tadi sedemikian lama Tuan melakukan
rukuk sehingga saya nampaknya karena lamanya sujud jangan-jangan hidung saya menjadi berdarah ". (Al-ishabatu
fi tamyiizishaabah jilid 7 hal 721)
Hadhrat Masih Mauud a.s bersabda:" Allah berfirman mengenai sifat hamba-hamba-Nya
وَالَّذِينَ
يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا
“Mereka melewatkan malamnya dengan bersujud dan berdiri demi untuk Tuhan-Nya.” (QS.Al-Furqan 65)
Kini perhatikanlah, orang yang siang malam tenggelam dalam urusan istri, bagaimana dapat melewatkan malam dalam beribadah sesuai dengan kehendak Allah. (bagi orang dunia) Istri-istri itu apa yang dilakukan. Seolah-olah mereka menciptakan sekutu bagi Tuhan. Rasulullah saw mempunyai sembilan istri dan kendatipun demikian beliau sepanjang malam melewatkan malam-malam beliau dalam beribadah kepada Allah. Pada suatu malam bagian/giliran beliau ada di Hadhrat Aisyah r.a , sebagian malam telah berlalu, maka Hadhrat Aisyah terjaga dari tidurnya. Beliau melihat bahwa beliau saw tidak ada di dekatnya. Beliau ragu bahwa mungkin beliau saw pergi ke istri beliau yang lain. Beliau bangun dan mencari beliau saw di setiap rumah istri beliau saw ,tetapi beliau tidak menjumpai beliau saw . Pada akhirnya beliau melihat bahwa beliau saw berada di makam dan tengah menangis dalam keadaan sujud. Kini perhatikanlah, beliau hidup meninggalkan istri yang disayangi lalu pergi ke kuburan di tempat laki-laki dan terus menerus menangis. Maka apakah istri-istri beliau bisa merupakan factor untuk bersenang –senang dan untuk mengikuti hawa nafsu". (Malfuhzat jilid 4 hlm.50-51 Edisi baru)
Pristiwa ini diterangkan dalam kata-kata Hadhrat Masih Mauud r.a yang perinciannya Hadhrat Aisyah terangkan demikian:
“Pada
suatu malam Hudhur saw datang kepada saya .Hudhur saw berbaring tetapi beliau
tidak tidur. Beliau bangun menggunakan selimut.Hadhrat Aisyah mengatakan bahwa di dalam hati saya timbul rasa cemburu.
Saya menyangka bahwa mungin Hudhur
saw sedang pergi ke rumah seorang madu
saya. Maka beliau ini berkata, saya pergi untuk mengejar beliau. Maka saya
melihat beliau di kuburan Jannatulbaqi'. Beliau memohon ampunan untuk para mu'min pria , perempuan- perempuan
mu'min dan untuk para syahid.
Hadhrat Aisyah berkata, saya mengatakan di dalam hati saya bahwa ibu bapak saya berkurban untuk
Tuan. Beliau tengah sibuk dalam memohon pada Tuhan beliau,sementara saya berada dalam pemikiran- pemikiran dunia
(cemburu). Beliau berkata,maka saya
cepat-cepat pergi dari sana. Tidak lama kemudian Hudhur juga dengan cepat-cepat kembali dari sana sedang kan akibat jalan cepat-cepat napas saya masih terengah-engah. Beliau
bertanya hai Aisyah ? kenapa napas kamu terengah-engah. Maka saya memberitahukan
kepada Hudhur semua kejadian itu. Maka atas hal itu beliau bersabda, hai Aisyah,
apakah engkau khawatir bahwa Allah dan Rasulnya ,mengabaikan hakmu.
Pada hakekatnya adalah bahwa Jibril datang kepada saya dan memberitahukan bahwa kini adalah
malam petengahan bulan Syakban. Pada malam ini Allah menyelamatkan
orang-orang dari api neraka sebanyak bulu seekor domba. Yakni banyak sekali yang
Dia selamatkan. Pada malam ini Allah tidak melihat kepada seorang musyrik
manapun dan tidak pula pada orang yang
berhati iri. Dan tidak pula pada orang yang memutuskan tali kekerabatan dan tidak pula pada orang yang menggantungkan kainnya karena takabbur(
mengenakan dengan tujuan untuk pamer). Dan tidak pula pada orang-orang yang durhaka pada kedua orang tuanya dan orang yang meminum minuman keras. Maka
Hadhrat Aisyah berkata bahwa selimut
yang Hudhur gunakan itu beliau buka
lalu bersabda kepada saya. Hai Aisyah
apakah kamu memberikan izin kepada saya
untuk beribadah pada malam yang tersisa ini. Saya mengatakan bahwa ibu bapakku berkurban untukmu. Harus ya Raulullah saw. Baru Rasulullah saw mulai
melakukan shalat dan sedemikian rupa lamanya
beliau sujud yang karenanya saya khawatir jangan-jangan nafas beliau telah hilang. Beliau r.a berkata,
saya memeriksa kaki beliau, maka di kaki beliau ada gerakan. Saya mendengar beliau berdoa di
dalam sujud. Pada waktu subuh Rasulullah saw bersabda: Doa-doa yang saya
panjatkan dalam sujud itu Hadhrat Jibril yang mengajarkan kepda saya. Dan dia
memerintahkan kepada saya supaya berkali-kali mengulangi itu.” (Tafsir
Addurarul mansur jilid 6 hlm.27)
Kini beritahukanlah jika ada yang ingin memberitahukan, apakah ada satu wujud lain seperti beliau saw yang berbuat baik kepada kemanusiaan yang sepanjang –sepanjang malam melewatkan malamnya di hadapan Tuhan untuk memohon ampunan untuk orang-orang , melewatkan malam hanya memohon ampunan kepada Allah. Penuh dengan kecintaan kepada Tuhan dan rasa simpati kepada manusia telah menjadikannya menjadi tidak merasa tenteram. Dia sama sekali tidak menghiraukan akan tidur malamnya, kedekatan dengan istrinya yang dicintainyapun tidak ada keistimewaannya di hadapannya. Jika ada keinginannya maka hanya satu,yaitu bagaimana Tuhan saya redha kepada saya dan makhluk-Nya terhindar dari azab. Apakah berkenaan dengan orang seperti ini ada yang berani mengatakan – nauzubuillah- dia terlibat dalam serba serbi hiasan dunia. Bagaimana malam-malam beliau berlalu, lihatlah satu kesaksian lainya lagi.
Hadhrat
Ummi Salma meriwayatkan : Beliau saw sesaat tidur
kemudian beberapa lama sibuk
dalam shalat . Kemudian beliau tidur, kemudian beliau bangun melakukan shalat.
Singkatnya inilah kondisi yang terus
berjalan. Bukhari kitabuttafsir bab
yagfirukallah
Tertera sebuah riwayat lain Hadhrat Aisyah bahwa pada suatu ketika pada saat giliran saya beliau pergi keluar. Apa yang saya lihat beliau seperti selembar kain yang digelar di atas tanah dan beliau mengatakan
سجد لك سوادى وخيالى وامن لك فؤادى- رب هذه يداى وما جنيت يها على نفسي ياعظيما يرجى لكل عظيم اغفر االذنب العظيم
-Sajada laka sawaadi wa khayaali wa aamana laka fuaadi rabbi haadzihi yaddaaya wa ma janaitu biha 'ala nafsi ya 'azhiiman yurja likulli 'azhiimin igfirizzdanbal 'azhiim –
Kemudian
beliau bersabda : “Hai Aisyah Jibril telah mengatakan kepada saya untuk membaca
kata-kata ini. Kamupun bacalah juga ini,
senantiasa bacalah juga ini. Barangsiapa yang membaca kalimah-kalimah
ini dia akan dimaafkan sebelum dia
mengangkat mukanya dari sujud itu.” (Majmauzzawaaid Histmi, Jilid 2, hlm.128 Edisi Beirut)
Beliau
bagaimanapun juga tidak menyukai tidur di tempat tidur yang empuk
lalu tidur pulas yang dapat melalaikan
beliau dari mengingat Tuhan. Hadhrat Hafsah meriwayatkan :
“Pada
suatu malam beliau r.a melipat menjadi empat lapis selimut beliau,yang
karenannya itu menjadi sedikit agak
empuk. Maka pada malam harinya beliau bersabda , pada malam hari apa yang
engkau gelar. Jadikanlah itu menjadi satu lapisan,yakni biarkanlah itu menjadi
hanya selapis. Itu telah mencegah saya dari shalat. (Assyamaailunnubuwwah Attirmidzi
bab maa jaa fi firaasyi Rasulillah saw )
Mungkin
saja sampai beberapa lama beliau
tertidur nyenyak. Sedangkan beliau tidak menghendaki untuk sedikit saja
menjadi lalai dari Tuhan.
Hadhrat Aisyah meriwayatkan : “Kapan saja Rasulullah saw karena akibat sakit atau karena akibat apa saja shalat tahajjud beliau tertinggal di malam hari, maka Rasulullah saw menunaikan shalat nafal 12 rekaat di hari itu.” (HR.Sahih Muslim)
Di hadapan ibadah pada Allah/demi untuk ibadah beliau sama sekali tidak pernah menghiraukan kesehatan beliau. Misalnya, tertera dalam sebuah riwayat Hadhrat Anas meriwayatkan : Pada suatu kali Rasulullah saw sedikit sakit. Sahabah bertanya, ya Rasulullah, hari ini wajah Tuan nampak agak sakit. Beliau menjawab,karena adanya rasa lemah yang saya rasakan ini, hari ini saya menunaikan shalat tahajjud dengan membaca surah-surah yang panjang. (Al-Wafaa bi ahwaalil musthafa lil jauzi hlm 511 Beirut)
Beliau
juga menasehati ummat beliau dan para sahabah beliau dengan contoh beliau bahwa jangan lalai dari melaksanakan ibadah pada Allah dan khususnya beliau memberikan perhatian pada shalat tahajjud.
Hadhrat Abdullah bin Abi Qais
meriwayatkan bahwa Hadhrat Aisyah r.a
bersabda: “Janganlah meninggalkan shalat malam
karena Rasulullah saw tidak meninggalkan itu. Dan manakala beliau sakit
dan di tubuh beliau timbul rasa malas,
maka beliau menunaikan shalat
tahajjud sambil duduk.” (Sunan
Abu Daud attargib wattarhiib)
Jadi, di dalamnya (melakukan shalat tahajjud) sedemikian
rupa teraturnya dan yang tidak lain merupakan
sebuah nasehat . Oleh karena itu tentu nasehat ini Hadhrat Aisyah teruskan bahwa
beliau menginginakn bahwa orang-orang yang mengikuti saya pun seperti
itulah mereka teratur dalam shalat - shalat dan dalam shalat tahajjud.
Hadhrat Kaab bin malik r.a meriwayatkan :
Rasulullah saw senantiasa kembali dari perjalanan pada siang hari dan paling utama
beliau saw pergi dahulu ke mesjid. Di
sana beliau melaksanakan shalat nafal dua rekaat. Kemudian beberapa lama beliau
duduk. Bab istihbaaburrakatain
fil masjid liman qadima min
safarin awawali kuduum
Kini
orang-orang umum pada umumnya setelah kembali dari perjalan maka yang terjadi
adalah mereka langsung menuju ke rumah , timbul keinginan berjumpa dengan anak
istri. Timbul rasa keinginan untuk
menghilangkan rasa letih dan lelah. Tetapi bagaimana dengan cara junjungan kita
Muhammad Mustafa saw bahwa beliau pada saat kembali beliau pertama-tama hadir di hadapan
Tuhannya, bersyukur pada-Nya dan memohon
kasih sayang dan karunia-Nya. Maka baru beliau melakukan pekerjaan lainnya atau
beliau kembali ke rumah. Di perang Uhud pun betapa ummat Islam harus berhadapan dengan situasi dan kondisi yang sedemikian
berbahaya. Beliau sendiri pada saat itu
menjadi terluka tetapi kejadian ini tidak bisa menjadi penghalang di jalan ibadah beliau kepada Tuhan; tidak
bisa menjadi penghalang di jalan ibadah beliau.
Tertera
dalam sebuah riwayat bahwa : Pada sore hari di perang Uhud tatkala
lingkaran besi topi baja beliau saw
yang sebelah kanan di pipi kanan
beliau pecah (karena lemparan batu) yang
karenannya banyak sekali darah
yang mengucur dari itu. Akibat
terkena paku, darah mengalir. Karena
pipi yang kena maka darah mengucur . Beliau menjadi lemah karena darah yang terlalu banyak keluar.Selain itu
syahidnya 70 sahabah
jauh lebih melukai perasaan beliau. Pada hari itupun atas panggilan
Bilal (Yakni suara azan Hadhrat Bilal) untuk shalat beliau pergi untuk
melakukan shalat sedemikian rupa
sebagaimana pada hari-hari biasa beliau
pergi untuk melakukan
shalat . (HR.Bukhari Kitabul mawaaqiit ashalaat
babul adzzan bakda dzihaabil
wakti)
Walhasil,
peristiwa-peristiwa ini sangat banyak di dapatkan. Kehidupan beliau setiap
saat terhias dengan ibadah-ibadah. Tidak
hanya ini bahkan di dalam
inbdividu-individu ummat beliau pun, di
kalangan para saahabah beliau telah
menunjukkan telah menyuruh mereka untuk menegakkan itu. Nasehat juga baru akan
berpengaruh manakala orang yang
menasehatkan memperlihatkan contoh standar yang luar biasa. Dan berkaitan
dengan itu tidak ada yang bisa mengatakan bahwa
apa yang beliau sabdakan itu tidak beliau lakukan. Bahkan merupakan
hasrat dan keinginaan keras para sahabah
kiranya kamipun,kata mereka,
dapat melakukan sebagaimana yang beliau
lakukan . Singkat kata, beliau telah menciptakan revoluisi pada orang-orang itu.
Hadhrat Masih Mauud a.s bersabda: “Saya dengan
tegas katakan bahwa betapapun seorang
itu menjadi seorang musuh keras ,baik dia seoarang Kristen atau Aryah
sekalipun apabila dia melihat kondisi sebagaimana yang orang-orang sebelumnya
pernah lihat dan melihat akan perubahan yang lahir akibat ajaran beliau dan akibat
pengaruh beliau,maka secara spontan akan memberikan kesaksian akan kebenaran
beliau". Al-Quran telah memberikan
gambaran akan kondisinya:
وَيَأْكُلُونَ
كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ
Artinya : “Mereka makan seperti makannya
binatang-binatang” (QS.Muhammad : 13)
Ini
merupakan kondisi kekufuran mereka, tetapi pengaruh-pengaruh suci Rasulullah saw telah menciptakan
perubahan suci di dalam diri mereka maka kondisi mereka digambarkan demikian.
وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا
Artinya : “Dan
mereka adalah orang-orang yang melalui
malam hari dengan bersujud dan berdiri (melakukan shalat )untuk Tuhan mereka.”
(QS.Al-Furqan 65)
Perubahan
yang dilakukan oleh Rasulullah di kalangan bangsa Arab yang buas dan dari lubang mana beliau mengeluarkan
mereka lalu beliau menyampaikan mereka pada kedudukan yang sedemikian tinggi
,dengan melihat semua gambaran kondisi itu
maka dengan spontan manusia akan
menangis bahwa betapa agung revolusi yang beliau ciptakan. Di dalam
sejarah dunia dan bangsa manapun tidak pernah didapatkan contohnya. Ini bukan
hanya sekedar kisah belaka. Ini merupakan
pristiwa-pristiwa sejarah atau fakta
sejarah yang kebenarannya harus terpaksa
diakui oleh satu zaman. (Malfuzhat
jilid 5 hlm. 117 Edisi baru)
Kemudian pada sakit
beliau yang terakhir, pada saat beliau
menderita demam yang sangat keras. Pada
saat itupun jika beliau khawatir maka
itu adalah hanya khawatir mengenai shalat. Dalam keadaan gelisah beliau berkali-kali
bertanya, apakah waktu shalat sudah tiba? Dituturkan bahwa orang-orang menunggu
beliau. Untuk meringankan demam beliau bersabda, tuangkanlah kantong air di atas saya.
Siramilah saya. Maka perintah
dijalankan. Perintah disempurnakan.
Kemudian beliau pingsan. Kemudian beliau sadar lalu beliau bertanya, apakah
shalat sudah dilakukan. Ketika
beliau mengetahui bahwa sahabah kini tengah dalam keadaan menunggu beliau(untuk
shalat ), maka beliau bersabda
tuangkanlah air pada saya. Kemudian air
disiramkan. Kemudian dengan menuangkan air seperti itu tatkala demam itu sedikit berkurang maka
beliau pergi untuk melakukan shalat. Namun akibat lemah, beliau tak sadarkan
diri, dan beliau tidak dapat pergi ke mesjid. (HR.Bukhari kitabul magaazi bab
maradhunnabi wawafaatihi)
Hadhrat Aisyah bersabda: “Pada saat beliau mengalami maradhulmaut
maka akibat sangat lemah maka tidak mampu untuk melakukan shalat. Oleh karena
itu beliau menyuruh Hadhrat Abu Bakar untuk mengimami shalat. Pada saat Hadhrat
Abu Bakar mulai mengimami shalat maka Rasulullah saw sedikit merasa agak pulih
karena itu beliau keluar untuk
shalat. Hadhrat Aisyah bersabda: Setelah
memerintahkan kepada Hadhrat Abu Bakar untuk mengimami shalat tatkala shalat telah dimulai maka sedikit berkurang
dalam penyakit beliau,seperti itulah beliau keluar menuju mesjid yang mana ada
dua orang yang mengapit /menopang beliau membawa beliau ke mesjid. Beliau
(Hadhrat Aisyah r.a) berkata, pemandangan ini langsung terjadi di depan saya
bahwa akibat sangat sakit yang sangat keras
pada saat itu kaki beliau terseret –terseret di tanah. Setelah melihat beliau, Hadhrat
Abu Bakar r.a ingin mundur ke
belakang. Setelah mengetahu keinginan Abu Bakar itu maka Rasulullah saw mengisyarahkan kepada Abu Bakar untuk tetap berdiri di tempatnya. Kemudianu
beliau dibawa ke sana. Kemudian beliau duduk bersama Abu Bakar dan sesudahnya Rasulullah saw mulai melakukan
shalat dan sesuai dengan gerakan beliau saw Hadhrat Abu Bakar r.a mengucapakan takbir.
Beliau mengucapkan لله
البر-allaahu
akbar. Dan orang-orang lain/ma'mum di belakang dengan mengikuti shalat Hadhrat Abu Bakar, mereka
semua melakukan shalat di belakang
beliau saw.” (HR.Sahih Bukhari
Kitabul azan bab haddul maridh.)
Hadhrat Ali dan Hadhrat Anas meriwayatkan : Akhir wasiat dan amanat
terakhir beliau pada saat beliau dalam kondisi kritis /sakaratul maut dan nafas beliau tengah turun naik adalah :
الصلاة
وما ملكت ايما نكم-
-asshalaatu
wama malakat aimaanukum-
Artinya :”Perhatikan shalat dan hak-hak sahaya.”
(HR.Sunan ibni majah alwashaayaa
bab hal aushaa Rasulullah saw.)
Ini adalah merupakan
ringkasan dari huquuqullah dan huquuqul 'ibaad
yang beliau sarankan /wasiatkan untuk ummat beliau (untuk ditegakkan )
ribuan selawat dan salam pada pada nabi suci saw yang mana beliau sendiri yang telah
menegakkan standar yang tinggi dalam
bribadah dan kepada ummat beliau juga
beliau menasehatkannya.
اللهم
صل على محمد وعلى ال محمد وبا رك وسلم انك حميد مجيد
-Allahumma
shalli 'ala muhammading wa 'aala aali muhammadin wabaarik wa sallim innaka hamidum majiid-
Referensi : Khutbah Jum’at, 18 Februari 2005
di Mesjid Baitul futuh,Morden,London,Inggris
Diterjemahkan : Mln.Qamaruddin Syahid

Komentar