Teladan Nabi Saw Dalam Melaksanakan Shalat Di Sepertiga Malam

 




يٰٓاَيُّهَا الْمُزَّمِّلُۙ - قُمِ الَّيْلَ اِلَّا قَلِيْلًاۙ - نِّصْفَهٗٓ اَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيْلًاۙ - اَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْاٰنَ تَرْتِيْلًاۗ - اِنَّا سَنُلْقِيْ عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيْلًا - اِنَّ نَاشِئَةَ الَّيْلِ هِيَ اَشَدُّ وَطْـًٔا وَّاَقْوَمُ قِيْلًاۗ -

“(2) Hai orang yang berselimut. (Nabi Muhammad), (3) Berdirilah untuk shalat waktu malam, kecuali sedikit, (4) Setengahnya atau kurangi lebih sedikit darinya, (5) Atau tambahkan atasya, dan Basalah Al-Quran dengan pembacaan yang baik, (6) Sesungguhnya Kami segera akan melimpahkan kepada engkau firman yang berbobot, (7) Sesungguhnya bangun di waktu malam untuk shalat Adalah lebih kuat untuk menguasai diri dan lebih ampuh untuk berbicara. (QS.Al-Muzzammil : 2-7)

          Ini merupakan  perintah Al-Quran  yang turun kepada Rasulullah saw dan beliau telah memenuhi  hak /tuntutan  ayat ini bahkan sebelum pendakwaan   atau  sebelum  kenabian pun beliau biasa melakukan i'tikaf seperti itu dalam pencaharian terhadap  Allah. Daripada melewatkan malam-malam yang beliau lalui  dengan  bersenang -senang dan dengan   melampiaskan  hobi atau kesenangan,  beliau melewatkan malam-malam itu  dalam beribadah kepada Allah.  Melakukan ibadah di malam-malam hari tatkala  malam tengah sunyi senyap, kesunyaian tengah menyelimuti di segala penjuru, tidak ada sesuatu benda corak apapun yang dapat menciptakan  penghalang diantara Allah dan hamba, tidak ada sesuatu yang menjadi penghalang dalam pembicaraan cinta dan  ketulusan diantara Allah dan hamba, pada waktu itulah orang-orang yang beribadah pada Allah  pasti mereka merupakan orang yang mendapat kedekatan Allah  dan merupakan orang yang meraih kecintaan-Nya. Sebab,  benar-benar untuk meraih kedekatan Allah dia melakukan ibadah  ini.

Oleh karena itu Allah berfirman  bahwa,  bangun pada waktu malam seperti itu sama dengan menguasai hawa nafsunya. Bahkan ini merupakan senjata yang sedemikian ampuh  untuk melenyapkan syaitan  dan merupakan senjata yang sedemikian ampuh untuk mengendalikan   jiwa atau hawa nafsu yang sama sekali tidak bisa ditandingi.

Ikatan perjanjian pada saat itu sedemikian mantap dan teguhnya yang tidak mungkin untuk dapat diputuskan. Di dalam itu syaitan sama sekali tidak mungkin ikut campur  dan  sama sekali syaitan tidak dapat  ikut serta di dalamnya. Seolah-olah untuk menjadi hamba yang tulus dan untuk menghancur luluhkan hawa nafsu  tidak ada sarana yang lebih baik dari itu yaitu bangun  malam hari lalu melakukan ibadah di dalamnya. Dan standar/mutu ibadah yang tinggi ini adalah hanya nabi kita saw  yang paling banyak meraihnya.  Bahkan daya  pensucian beliau  itu telah menciptakan  di dalam diri ummat  beliau juga orang-orang yang bangun di malam hari.  Di akhir ayat surah Al-Muzzammil Allah menegaskan perbuatan Nabi saw dan para pengikutnya bahwa di bagian  2/3 malam  atau di bagian   setengahnya  atau dari segi waktu pada bagian yang ketiga engkau (Hai Muhammad saw) telah menegakkan standar ibadah yang tinggi, engkau telah menunaikan hak ibadah.  Allah memberikan kesaksian tentang mereka. Bahkan Dia memberikan kesaksian juga tentang orang-orang yang berjalan mengikuti langkah-langkah beliau; dan mereka senantiasa gelisah untuk megamalkan  hukum-hukum itu. Maka inilah  kesaksian Allah berkenaan dengan Rasul yang dicintai-Nya yang diberikan petunjuk bahwa bangunlah untuk beribadah dan teguhkanlah dirimu juga di dalam doa-doa malam-malam yang  gelap gulita  dan jadilah engkau  benteng bagi  ummat engkau. Di dalam hal itu beliau tidak hanya memenuhinya  bahkan beliau menegakkan standar yang tinggi dan telah memenuhi haknya. Di tempat lain  terdapat juga  kesaksiannya seperti itu. Bersabda:

الَّذِيْ يَرٰىكَ حِيْنَ تَقُوْمُ ٢١٨ وَتَقَلُّبَكَ فِى السّٰجِدِيْنَ ٢١٩

Yang tengah melihatmu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang), dan (melihat pula) keresahanmu di antara orang-orang yang melakukan sujud.”(QS.Asy-Syuara 219-220 )

Jadi seorang yang Allah telah berikan pengakuan bahwa dari semua orang-orang yang melakukan sujud tidak ada orang yang melakukan sujud dengan resah seperti engkau. Ketika engkau berdiri maka berdirinya engkau  untuk beribadah juga  adalah demi untuk Tuhan dan  untuk ibadah. Dan tatkala engkau dalam sujud pun  maka itupun hanya untuk Tuhan dan hanya  untuk Tuhan semata,untuk tunduk dihadapan-Nya;  untuk meraih belas kasih-Nya; untuk diri engkau juga dan  untuk ummat engkau juga. Maka berkenaan dengan orang seperti itu siapa yang  bisa  mengatakan  bahwa dia mengejar kelezatan dunia  atau bisa terjadi seperti itu.

         

           Hadhrat Masih Mauud a.s bersabda: Nabi kita saw hanya menyukai duduk tafakkur dan duduk menyendiri.  Untuk menjalankan  ibadah beliau saw biasa pergi jauh dari orang-orang  di sebuah goa bernama  goa Hira.  Goa ini sedemikian rupa menakutkan  sehingga tidak ada manusia yang berani pergi ke sana. Tetapi beliau menyukainya supaya orang yang ketakutan mati-matian pun tidak akan sampai  disana. Beliau  benar-benar ingin hidup menyendiri. Beliau sama sekali tidak menginginkan kemasyhuran. Tetapi tiba-tiba datang perintah Allah

 

Tertera dalam sebuah riwayat  ummulmu'minin Hadhrat Aisyah r.a meriwayatkan: “Rasulullah saw sebelum dibangkitkan biasa pergi sendirian dengan membawa sedikit bekal. Dengan membawa sedikit   makanan dan minuman  beliau pergi  ke goa yang bernama Hira lalu  sambil beribadah beliau beriktikaf.  Disana sampai beberapa malam beliau lewatkan dalam  bribadah dan   kemudian apabila bekal beliau  habis  maka beliau kembali kepada Hadhrat Khadijah r.a  dan kemudian beliau mengambil bekal lagi  dan kemudian  setelah menyendiri  beliau berdzikir kepada Allah". (HR.Bukhari Kitab badaul wahyi)

 

Hadhrat Abdullah bin Mas'ud r.a meriwayatkan :" Pada suatu saat Rasulullah saw sedang melakukana salat di Baitullah, di  saat mana  Abu Jahal dan kawan-kawannya sedang duduk-duduk  disana. Dalam keadaan  seperti itu  seorang berkata, siapa diantara kalian  yang akan membawa usus unta si fulan untuk dipikulkan   di antara kedua pundak  Muhammad (saw ) ketika  dia sedang melakukan sujud. Sesuai dengan itu seorang yang  paling bernasib malang berdiri dari mereka lalu  mengangkat usus peranakan untu betina   lalu mulai  saat itu terus menunggu  sampai pada saat Rasulullah saw tengah  melakukan sujud dan mereka meletakkan usus unta itu diantara dua pundak beliau. Perawi menuturkan bahwa saya terus melihat  mereka semua yang  tengah melakukan semua ini,tetapi   saya tidak dapat berbuat apa-apa. Wahai  kiranya saya mempunyai kekuatan untuk menahan mereka dari perbuatan malang itu. Kemudian  sesudah melakukan itu orang-orang itu sambil tertawa menjatuhkan  dirinya di atas satu dengan yang lainnya  sementara  Rasulullah saw terus menerus dalam  sujud beliau.  Beliau terus tidak  mengangkat kepala beliau hingga Hadrat Fatimah datang kepada beliau  saw dan  menurunkan usus unta itu dari punggung beliau saw.  Maka Rasulullah saw mengangkat kepala  beliau. Kemudian Rasulullah saw  tiga kali bersabda: "Hai Allah !  hukumlah   orang-orang Quraisy itu dan doa buruk inipun sangat tidak berkenan di hati  mereka. Sebab mereka mengetahui  doa Hudhur dikabulkan. Kemudian  sambil  menyebut nama-nama mereka  beliau memanjatkan doa. Hai Allah saya  memohon kepada Engkau untuk menghukum Abu Jahal, Utbah bin Rabiah, Syaibah bin Rabiah, Walid bin Uqbah, Umayyah bin Khalaf dan  utbah bin Abi Mu'iith. Maka perawi mengatakan  bahwa Rasulullsh saw juga menyebut nama orang yang ketujuh tetapi saya tidak ingat. Tetapi singkatnya inilah riwayat perawi bahwa demi Zat yang ditangan kekuasaan-Nya jiwaku berada, orang –orang  yang Rasulullah saw  hitung  saya menyaksikan  mereka saat jatuh di sumur Badar setelah terbunuh. (HR.Bukhari Kitabul Wudhu bab idza ulqia 'ala zhahrilmushalla)

 

Jadi, pemandangan pengabulan doa ini hanya dapat diperlihatkan oleh para kekasih Allah. Apakah ada orang yang  tenggelam dalam kesibukan-kesibukan urusan  dunia  dapat memperlihatkan mu'jizat seperti ini ?  Dalam waktu yang singkat nampak semuanya terlihat menjadi  sempurna.

 

Kemudian Rasulullsh saw sendiri dalam menyebut  keinginan hati beliau yang mendalam  bersabda: " Allah telah menjadikan setiap nabi mempunyai  keinginan dan  keinginan saya adalah beribadah di malam hari".  (Al-Mu'jam kabir littibrani jilid 12 hal 84)

 

Kemudian kita melihat juga  bahwa dalam ibadat di malam hari ini juga  beliau telah menegakkan standar yang tertinggi  yang tidak dapat diketemukan contohnya. Berkaitan dengan itu terdapat kesaksian Hadhrat Aisyah r.a. Apabila kepada beliau dipertanyakan keadaan/status shalat tahajjud Rasulullah saw maka bersabda: Hudhur saw di bulan Ramadhan atau selain hari-hari lainnya beliau tidak melakukan shalat lebih dari sebelas rekaat tetapi sedemikian rupa panjang, cantik dan indahnya  shalat beliau sehingga kalian jangan menanyakan akan   panjang,indah dan keistimewaan shalat. Yakni saya sama sekali tidak ada kata-kata yang dari itu saya dapat memberikan contoh mengenai gambaran keindahan shalat itu. (HR.Bukhari Kitabul Jumaah bab Qiyamunnabi  bi  lailin  fi Ramadhaan)

 

Hadhrat Auf bin Malik bin  Asjai meriwayatkan:  Pada suatu malam  saya mendapat taufik beribadah bersama-sama Rasulullah saw . Beliau pertama membaca surat Al-Baqarah. Tidak lewat dari ayat yang menyebut mengenai rahmat   tetapi di sana beliau berhenti untuk  berdoa  dan  tidak lewat dari ayat yang menyebut mengenai azab  tetapi disini beliau berhenti untuk  berdoa  memohon  perlindungan. Kemudian beliau rukuk seperti  lamanya berdiri.  Yakni seberapa lama berdiri  sambil  membaca Al-Quran  seperti itulah lamanya beliau rukuk, yang dimana di dalamnya beliau membaca  tasbih dan pujian. Kemudian seperti lamanya berdiri beliau melakukan sujud. Di dalam sujud pun inilah tasbih dan doa yang terus beliau baca. Kemudian setelah berdiri, beliau membaca surah Ali Imran. Kemudian sesudah itu dalam setiap rekaat satu satu surah yang  beliau baca. (HR.Abu Daud kitabusshalat  bab fiddua  ma yaquulurrajulu  fi rukuu'ihi wa sujuudihi)

   

 Jadi,  membaca dengan terhenti terhenti ini, membaca sambil faham betul isi kandungan, membaca sambil berdoa pada saat disebutkan   ayat  yang menyangkut  rahmat dan azab,  kemudian Rasulullah saw  membaca sambil memohon  perlindungan lalu merenungkan seperti itu kemudian  memohon  perlindungan, terhenti dan berfikir /merenungkan pun bukanlah merupakan hal yang biasa-biasa saja. Doa-doa ini dan renungan ini pun  merupakan standar yang sangat tinggi yang  mana untuk sampai pemikiran manusia ke arah itupun  merupakan hal yang sangat sulit. Oleh karena itulah Hadhrat Aisyah bersabda, "janganlah bertanya pada saya tentang keindahan shalatnya,  itu sama sekali tidak bisa  diterangkan (dengan sempurna.)

 

 Kemudian  Hadhrat Huzaifah bin Yaman meriwayatkan. Berkenaan dengan beliau  dikatakan  bahwa beliau ini  merupakan sahabah karib   Rasulullah saw  yang mengetahui keadaan  Rasulullah saw.  Pada suatu malam beliau shalat bersama /shalat di belakang Rasulullah saw. Ketika beliau memulai shalat maka beliau mengatakan:

الله اكبر ذوالملكوت والجبروت والكبرياء والعظمة

-allaahu akbar dzul malakuuti  wal jabaruut  wal kibriyaai  wal' azhmah-

Artinya : “Allah Maha besar, yang memiliki kekuasaan yang memiliki kekuatan  dan kebesaran serta memiliki keagungan.”

 

Kemudian beliau membaca seluruh  surat Al-Baqarah. Kemudian beliau melakukan ruku' yang lamanya sama dengan berdiri. Kemudian beliau sujud  yang sama dengan berdiri. Kemudian beliau sujud yang  sama dengan berdiri. Kemudian diantara dua sujud  beliau mengatakan:

رب اغفر لى رب اغفر لى

-rabbigfirli  rabbigfirli-

Artinya : “Hai Allah ampunilah aku,hai Allah ampunilah aku”

  Sedemikian lama beliau duduk sebagaimana lamanya beliau bersujud. Kemudian di dalam rekaat-rekaat yang lainnya  beliau membaca surah-surah yang paanjang  seperti surah Ali Imran, An-Nisa' Al-Maidah, An'am dll  . (HR.Abu Daud. Kitabushasalat  ma Yaquulurrajulu fi rukuihi wa sujudihi)

 

 Jadi lihatlah inilah mutu ibadah beliau saw. Oleh karena itu di dalam riwayat tertera  bahwa karena lamanya beliau berdiri kaki beliau biasa menjadi  bengkak. Sebagaimana Hadhrat Aisyah meriwayatkan  bahwa pada malam hari Rasulullah saw sedemikian lama  melakukan shalat sehingga  kaki beliau menjadi bengkak dan menjadi pecah-pecah. Pada suatu kali saya ,katanya,bertanya  pada beliau  ya  Rasul Allah !  Kenapa Tuan begitu menyusahkan diri  sedangkan Allah telah memaafkan semua dosa-dosa  Tuan yang akan dan yang telah lalu. Maka beliau menjawab;

ا فلا احب ان اكون عبدا شكورا

-afala uhibbu an akuna 'abdan syakuura-

Artinya : “Apakah saya tidak boleh menjadi hamba Allah yang tahu berteima kasih?” (HR. Bukhari, Kitabuttafsiir  suratul fatah)

 Kemudian tertera sebuah riwayat Hadhrat Sauda'. Beliau adalah seorang perempuan yang sangat saleh dan sangat sederhana. Pada suatu malam beliau juga menginginkan untuk ikut shalat tahajjud pada saat giliran beliau . Dan dengan Hudhur saw beliau  ikut dalam shalat. Tidak diketahui berapa lama beliau dapat bersama sama melakukan shalat  tetapi dalam kesederhaan beliau pada siang hari  beliau memberikan komentar akan panjangnya shalat itu  yang   dari itu Hudhur sangat senang. Beliau berkata  ,ya Rasulullah  pada malam hari tadi sedemikian lama Tuan melakukan rukuk  sehingga saya nampaknya  karena lamanya sujud jangan-jangan  hidung saya menjadi berdarah ". (Al-ishabatu fi tamyiizishaabah jilid 7 hal 721)

 

Hadhrat Masih Mauud a.s bersabda:" Allah berfirman mengenai sifat hamba-hamba-Nya

وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا

Mereka melewatkan malamnya dengan bersujud dan berdiri demi untuk Tuhan-Nya.” (QS.Al-Furqan 65)

Kini perhatikanlah, orang yang siang malam tenggelam dalam urusan istri, bagaimana  dapat melewatkan malam dalam beribadah sesuai dengan kehendak Allah. (bagi orang dunia) Istri-istri itu apa yang dilakukan. Seolah-olah mereka menciptakan sekutu bagi Tuhan. Rasulullah saw  mempunyai sembilan istri  dan kendatipun demikian beliau sepanjang malam  melewatkan malam-malam beliau dalam beribadah kepada Allah. Pada suatu malam bagian/giliran  beliau ada di Hadhrat Aisyah r.a , sebagian malam telah berlalu, maka Hadhrat Aisyah terjaga dari tidurnya. Beliau melihat bahwa  beliau saw tidak ada di dekatnya. Beliau ragu  bahwa mungkin beliau saw pergi ke istri beliau yang lain. Beliau bangun dan mencari beliau saw di setiap rumah istri beliau saw ,tetapi beliau tidak menjumpai beliau saw . Pada akhirnya beliau melihat bahwa beliau saw berada di makam  dan  tengah menangis  dalam keadaan sujud. Kini perhatikanlah, beliau hidup  meninggalkan istri yang disayangi  lalu pergi ke kuburan di tempat laki-laki  dan  terus menerus menangis. Maka apakah istri-istri beliau bisa  merupakan factor untuk bersenang –senang dan untuk  mengikuti  hawa nafsu".  (Malfuhzat jilid 4 hlm.50-51 Edisi baru)

Pristiwa ini diterangkan dalam kata-kata Hadhrat Masih Mauud r.a  yang perinciannya  Hadhrat Aisyah terangkan demikian:

“Pada suatu malam Hudhur saw datang kepada saya .Hudhur saw berbaring tetapi beliau tidak tidur. Beliau bangun menggunakan selimut.Hadhrat Aisyah mengatakan  bahwa di dalam hati saya timbul rasa cemburu. Saya menyangka  bahwa mungin Hudhur saw  sedang pergi ke rumah seorang madu saya. Maka beliau ini berkata, saya pergi untuk mengejar beliau. Maka saya melihat beliau di kuburan Jannatulbaqi'. Beliau memohon ampunan untuk  para mu'min pria , perempuan- perempuan mu'min dan  untuk para  syahid.  Hadhrat Aisyah berkata, saya mengatakan di dalam hati saya  bahwa ibu bapak saya berkurban  untuk  Tuan. Beliau tengah sibuk dalam memohon pada Tuhan beliau,sementara  saya berada dalam pemikiran- pemikiran dunia (cemburu). Beliau berkata,maka  saya cepat-cepat pergi dari sana. Tidak lama kemudian Hudhur juga  dengan cepat-cepat  kembali dari sana  sedang kan akibat jalan cepat-cepat  napas saya masih terengah-engah. Beliau bertanya hai Aisyah ? kenapa napas kamu terengah-engah. Maka saya memberitahukan kepada Hudhur semua kejadian itu. Maka atas hal itu beliau bersabda, hai Aisyah, apakah engkau khawatir bahwa Allah dan Rasulnya ,mengabaikan  hakmu.  Pada hakekatnya adalah bahwa Jibril datang kepada saya  dan memberitahukan bahwa kini adalah malam  petengahan bulan Syakban.  Pada malam ini Allah menyelamatkan orang-orang  dari api neraka sebanyak  bulu seekor domba. Yakni banyak sekali yang Dia selamatkan. Pada malam ini Allah tidak melihat kepada seorang musyrik manapun  dan tidak pula pada orang yang berhati iri. Dan tidak pula pada orang yang memutuskan tali kekerabatan  dan tidak pula pada orang yang  menggantungkan kainnya karena takabbur( mengenakan dengan tujuan untuk pamer). Dan tidak pula pada orang-orang  yang durhaka pada kedua orang tuanya dan  orang yang meminum minuman keras. Maka Hadhrat Aisyah berkata  bahwa selimut yang Hudhur gunakan  itu beliau buka lalu  bersabda kepada saya. Hai Aisyah apakah kamu memberikan izin kepada  saya untuk beribadah pada malam yang tersisa ini. Saya mengatakan bahwa ibu bapakku  berkurban untukmu. Harus  ya Raulullah saw. Baru Rasulullah saw mulai melakukan shalat dan sedemikian rupa lamanya  beliau  sujud yang karenanya  saya khawatir jangan-jangan  nafas beliau telah hilang. Beliau r.a berkata, saya memeriksa  kaki beliau,  maka di kaki beliau ada  gerakan. Saya mendengar beliau berdoa di dalam sujud. Pada waktu subuh Rasulullah saw bersabda: Doa-doa yang saya panjatkan dalam sujud itu Hadhrat Jibril yang mengajarkan kepda saya. Dan dia memerintahkan kepada saya supaya berkali-kali mengulangi itu.” (Tafsir Addurarul mansur jilid 6 hlm.27)

 

 Kini beritahukanlah jika ada yang ingin memberitahukan,  apakah ada satu wujud lain seperti beliau saw yang berbuat baik kepada kemanusiaan  yang sepanjang –sepanjang  malam melewatkan malamnya di hadapan Tuhan untuk memohon  ampunan untuk orang-orang , melewatkan malam hanya memohon ampunan kepada Allah. Penuh dengan kecintaan kepada Tuhan  dan rasa simpati kepada manusia telah menjadikannya menjadi tidak merasa tenteram. Dia sama sekali tidak menghiraukan akan tidur malamnya, kedekatan dengan istrinya yang dicintainyapun tidak ada keistimewaannya di hadapannya. Jika ada keinginannya  maka hanya satu,yaitu   bagaimana Tuhan saya redha kepada saya dan makhluk-Nya terhindar dari azab. Apakah berkenaan dengan orang seperti ini ada yang berani mengatakan – nauzubuillah- dia terlibat dalam serba serbi hiasan   dunia. Bagaimana malam-malam beliau berlalu, lihatlah satu kesaksian lainya lagi.

Hadhrat Ummi Salma  meriwayatkan : Beliau saw sesaat   tidur  kemudian beberapa  lama sibuk dalam shalat . Kemudian beliau tidur, kemudian beliau bangun melakukan shalat. Singkatnya  inilah kondisi yang terus berjalan. Bukhari kitabuttafsir  bab yagfirukallah

 Tertera sebuah riwayat lain Hadhrat Aisyah   bahwa pada suatu ketika  pada saat giliran saya beliau pergi keluar. Apa yang saya  lihat beliau seperti selembar kain   yang digelar di  atas tanah  dan beliau mengatakan

سجد لك سوادى وخيالى وامن لك فؤادى- رب هذه يداى وما جنيت يها على نفسي ياعظيما يرجى لكل عظيم اغفر االذنب العظيم

-Sajada laka sawaadi wa khayaali wa aamana laka fuaadi  rabbi haadzihi yaddaaya  wa ma janaitu biha  'ala nafsi  ya 'azhiiman yurja  likulli 'azhiimin  igfirizzdanbal 'azhiim

Artinya : “Wahai  Allah ! Tubuhku dan  jiwa ku bercujud untuk  Engkau dan hatiku  beriman kepada Engkau. Wahai  Tuhan-ku ! kedua tanganku   kutengadahkan di hadapan Engkau  dan apapun yang dengan itu saya telah menganiaya diriku   itu pun juga ada di hadapan Engkau. Hai Yang Maha agung ! Yang segala yang agung diharapkan dari-Nya, Engkau-lah yang memaafkan dosa-dosa yang besar.”

Kemudian beliau bersabda : “Hai Aisyah Jibril telah mengatakan kepada saya untuk membaca kata-kata ini. Kamupun bacalah juga ini,  senantiasa bacalah juga ini. Barangsiapa yang membaca kalimah-kalimah ini  dia akan dimaafkan sebelum dia mengangkat mukanya dari sujud itu.” (Majmauzzawaaid  Histmi, Jilid 2, hlm.128 Edisi  Beirut)

 

 Beliau  bagaimanapun juga tidak menyukai tidur di tempat tidur yang empuk lalu  tidur pulas yang dapat melalaikan beliau dari mengingat Tuhan. Hadhrat Hafsah meriwayatkan :

 

“Pada suatu malam beliau r.a melipat menjadi empat lapis selimut beliau,yang karenannya  itu menjadi sedikit agak empuk. Maka pada malam harinya beliau bersabda , pada malam hari apa yang engkau gelar. Jadikanlah itu menjadi satu lapisan,yakni biarkanlah itu menjadi hanya selapis. Itu telah mencegah saya dari shalat. (Assyamaailunnubuwwah  Attirmidzi  bab maa jaa fi firaasyi Rasulillah saw )

 

Mungkin saja sampai beberapa lama beliau  tertidur nyenyak. Sedangkan beliau tidak menghendaki untuk sedikit saja menjadi lalai dari  Tuhan.

Hadhrat Aisyah meriwayatkan : “Kapan saja Rasulullah saw  karena akibat sakit atau karena akibat  apa saja shalat tahajjud beliau tertinggal di malam hari, maka  Rasulullah  saw menunaikan shalat nafal  12 rekaat di  hari itu.” (HR.Sahih Muslim)

 Di hadapan ibadah pada Allah/demi untuk  ibadah beliau sama sekali tidak pernah menghiraukan kesehatan beliau. Misalnya,  tertera dalam sebuah riwayat Hadhrat Anas meriwayatkan : Pada suatu kali Rasulullah saw sedikit sakit. Sahabah bertanya, ya Rasulullah, hari ini wajah Tuan   nampak agak  sakit.  Beliau menjawab,karena adanya  rasa  lemah yang saya rasakan ini,  hari ini saya  menunaikan shalat tahajjud  dengan  membaca surah-surah yang panjang. (Al-Wafaa bi ahwaalil musthafa lil jauzi  hlm 511 Beirut)

Beliau juga menasehati  ummat beliau dan  para sahabah beliau dengan contoh beliau  bahwa jangan lalai dari melaksanakan ibadah  pada Allah dan khususnya beliau  memberikan perhatian pada shalat tahajjud.

                                            

 Hadhrat Abdullah bin Abi Qais meriwayatkan  bahwa Hadhrat Aisyah r.a bersabda: “Janganlah meninggalkan shalat malam  karena Rasulullah saw tidak meninggalkan itu. Dan manakala beliau sakit dan di tubuh beliau timbul rasa malas,  maka    beliau menunaikan shalat tahajjud sambil  duduk.” (Sunan Abu Daud  attargib wattarhiib)

 Jadi, di dalamnya (melakukan shalat tahajjud) sedemikian rupa teraturnya dan  yang tidak lain merupakan sebuah nasehat . Oleh karena itu tentu nasehat ini Hadhrat Aisyah teruskan bahwa beliau menginginakn bahwa orang-orang yang mengikuti saya pun  seperti  itulah mereka teratur dalam shalat - shalat  dan dalam shalat tahajjud.

 Hadhrat Kaab bin malik r.a meriwayatkan : Rasulullah saw senantiasa kembali dari perjalanan pada siang hari dan paling utama    beliau saw pergi dahulu ke mesjid. Di sana beliau melaksanakan shalat nafal dua rekaat. Kemudian beberapa lama  beliau  duduk. Bab istihbaaburrakatain  fil masjid  liman qadima min safarin awawali kuduum

Kini orang-orang umum pada umumnya setelah kembali dari perjalan maka yang terjadi adalah mereka langsung menuju ke rumah , timbul keinginan berjumpa dengan anak istri. Timbul rasa keinginan  untuk menghilangkan rasa letih dan lelah. Tetapi bagaimana dengan cara junjungan kita Muhammad Mustafa saw bahwa beliau pada saat kembali  beliau pertama-tama hadir di hadapan Tuhannya,  bersyukur pada-Nya dan memohon kasih sayang dan karunia-Nya. Maka baru beliau melakukan pekerjaan lainnya atau beliau kembali ke rumah. Di perang Uhud pun betapa  ummat Islam harus berhadapan dengan  situasi dan kondisi yang sedemikian berbahaya.  Beliau sendiri pada saat itu menjadi terluka tetapi kejadian ini tidak bisa menjadi penghalang  di jalan ibadah beliau kepada Tuhan; tidak bisa menjadi penghalang di jalan ibadah beliau.

Tertera dalam sebuah riwayat bahwa : Pada sore hari di perang Uhud   tatkala  lingkaran besi topi baja beliau saw   yang sebelah kanan  di pipi kanan beliau pecah (karena lemparan batu) yang  karenannya banyak sekali darah  yang mengucur  dari itu. Akibat terkena paku,  darah mengalir. Karena pipi yang kena maka darah mengucur . Beliau menjadi lemah karena  darah yang terlalu banyak keluar.Selain itu syahidnya  70  sahabah  jauh lebih melukai perasaan beliau. Pada hari itupun atas panggilan Bilal (Yakni suara azan Hadhrat Bilal) untuk shalat beliau pergi untuk melakukan shalat  sedemikian rupa sebagaimana  pada hari-hari biasa beliau pergi  untuk  melakukan  shalat . (HR.Bukhari Kitabul mawaaqiit  ashalaat  babul adzzan  bakda dzihaabil wakti)

 

Walhasil, peristiwa-peristiwa ini sangat banyak di dapatkan. Kehidupan beliau setiap saat  terhias dengan ibadah-ibadah. Tidak hanya ini  bahkan di dalam inbdividu-individu ummat beliau pun,  di kalangan para saahabah   beliau telah menunjukkan telah menyuruh mereka untuk menegakkan itu. Nasehat juga baru akan berpengaruh manakala  orang yang menasehatkan memperlihatkan contoh standar yang luar biasa. Dan berkaitan dengan itu tidak ada yang bisa mengatakan bahwa  apa yang beliau sabdakan itu tidak beliau lakukan. Bahkan merupakan hasrat dan keinginaan keras para sahabah  kiranya  kamipun,kata mereka, dapat melakukan   sebagaimana yang beliau lakukan . Singkat kata, beliau telah menciptakan  revoluisi pada  orang-orang itu.

 

 Hadhrat Masih Mauud a.s bersabda: “Saya dengan tegas katakan   bahwa betapapun seorang itu menjadi seorang musuh keras ,baik dia seoarang Kristen atau Aryah sekalipun  apabila dia melihat kondisi    sebagaimana yang orang-orang sebelumnya pernah lihat  dan  melihat akan perubahan   yang lahir akibat ajaran beliau dan akibat pengaruh beliau,maka secara spontan akan memberikan kesaksian akan kebenaran beliau". Al-Quran telah  memberikan gambaran akan kondisinya:

 

وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ

Artinya : “Mereka makan seperti makannya binatang-binatang” (QS.Muhammad : 13)

 

Ini merupakan kondisi kekufuran mereka, tetapi pengaruh-pengaruh  suci Rasulullah saw telah menciptakan perubahan suci di dalam diri mereka maka kondisi mereka digambarkan demikian.

وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا

Artinya : “Dan mereka adalah orang-orang  yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri (melakukan shalat )untuk Tuhan mereka.” (QS.Al-Furqan 65)

 

Perubahan yang dilakukan oleh Rasulullah di kalangan bangsa Arab yang buas  dan dari lubang mana beliau mengeluarkan mereka lalu beliau menyampaikan mereka pada kedudukan yang sedemikian tinggi ,dengan melihat semua gambaran kondisi itu  maka dengan spontan manusia akan   menangis bahwa betapa agung revolusi yang beliau ciptakan. Di dalam sejarah dunia dan bangsa manapun tidak pernah didapatkan contohnya. Ini bukan hanya sekedar kisah  belaka. Ini merupakan pristiwa-pristiwa sejarah atau  fakta sejarah  yang kebenarannya harus terpaksa diakui  oleh satu zaman. (Malfuzhat jilid 5 hlm. 117 Edisi baru)  

 

           Kemudian pada sakit beliau yang terakhir,  pada saat beliau menderita  demam yang sangat keras. Pada saat itupun jika beliau khawatir maka  itu adalah hanya khawatir mengenai shalat.  Dalam keadaan gelisah beliau berkali-kali bertanya, apakah waktu shalat sudah tiba? Dituturkan bahwa orang-orang menunggu beliau. Untuk meringankan demam beliau bersabda,  tuangkanlah kantong air di atas saya. Siramilah  saya. Maka perintah dijalankan. Perintah  disempurnakan. Kemudian beliau pingsan. Kemudian beliau sadar lalu  beliau bertanya,  apakah   shalat sudah dilakukan.  Ketika beliau mengetahui bahwa sahabah kini tengah dalam keadaan menunggu beliau(untuk shalat ),  maka beliau bersabda tuangkanlah air pada  saya. Kemudian air disiramkan. Kemudian dengan menuangkan air seperti itu  tatkala demam itu sedikit berkurang maka beliau pergi untuk melakukan shalat. Namun akibat lemah, beliau tak sadarkan diri, dan beliau tidak dapat pergi ke mesjid. (HR.Bukhari kitabul magaazi bab maradhunnabi  wawafaatihi)

 

          Hadhrat Aisyah bersabda: “Pada saat beliau mengalami maradhulmaut maka akibat sangat lemah maka tidak mampu untuk melakukan shalat. Oleh karena itu beliau menyuruh Hadhrat Abu Bakar untuk mengimami shalat. Pada saat Hadhrat Abu Bakar mulai mengimami shalat maka Rasulullah saw sedikit merasa agak pulih karena itu  beliau keluar untuk shalat.  Hadhrat Aisyah bersabda: Setelah memerintahkan kepada Hadhrat Abu Bakar untuk mengimami shalat  tatkala shalat telah dimulai maka sedikit berkurang dalam penyakit beliau,seperti itulah beliau keluar menuju mesjid yang mana ada dua orang yang mengapit /menopang beliau membawa beliau ke mesjid. Beliau (Hadhrat Aisyah r.a) berkata, pemandangan ini langsung terjadi di depan saya bahwa akibat sangat sakit yang sangat keras   pada saat itu kaki beliau terseret –terseret  di tanah. Setelah melihat beliau,  Hadhrat  Abu Bakar r.a ingin   mundur ke belakang. Setelah mengetahu keinginan Abu Bakar itu   maka Rasulullah saw mengisyarahkan  kepada Abu Bakar  untuk tetap berdiri di tempatnya. Kemudianu beliau dibawa ke sana. Kemudian beliau duduk bersama Abu Bakar dan  sesudahnya Rasulullah saw mulai melakukan shalat dan sesuai dengan gerakan beliau saw    Hadhrat Abu Bakar r.a mengucapakan takbir. Beliau mengucapkan لله البر-allaahu akbar. Dan orang-orang lain/ma'mum di belakang  dengan mengikuti shalat Hadhrat Abu Bakar, mereka semua melakukan shalat  di belakang beliau saw.(HR.Sahih Bukhari  Kitabul azan  bab haddul maridh.)

 Hadhrat Ali dan Hadhrat Anas  meriwayatkan : Akhir wasiat dan amanat terakhir beliau  pada saat beliau  dalam kondisi kritis /sakaratul maut  dan nafas beliau tengah turun naik  adalah :

الصلاة وما ملكت ايما نكم-

-asshalaatu wama malakat aimaanukum-

Artinya :”Perhatikan shalat dan hak-hak sahaya.”

(HR.Sunan ibni majah alwashaayaa  bab hal aushaa Rasulullah saw.)

 

           Ini adalah merupakan ringkasan dari huquuqullah dan huquuqul 'ibaad  yang beliau sarankan /wasiatkan untuk ummat beliau (untuk ditegakkan ) ribuan selawat dan salam pada pada nabi suci saw  yang mana beliau sendiri yang telah menegakkan  standar yang tinggi dalam bribadah  dan kepada ummat beliau juga beliau menasehatkannya.


اللهم صل على محمد وعلى ال محمد وبا رك وسلم انك حميد مجيد

-Allahumma shalli 'ala muhammading wa 'aala aali muhammadin wabaarik  wa sallim innaka hamidum majiid-

 

 

           

Referensi   : Khutbah Jum’at, 18 Februari 2005 di Mesjid Baitul futuh,Morden,London,Inggris

Diterjemahkan      : Mln.Qamaruddin Syahid


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peringati 100 th JAI, Ahamdiyah Kalimantan Tengah Dan Selatan Gelar Jalsah Salanah, Seabad Penuh Cinta Dan Perdamaian

Bukan Sekedar Gerhana Bulan Dan Matahari, 1894 M / Ramadhan 1311 H

Kesbangpol Terbitkan SK Keberadaan Jemaat Ahmadiyah Di Kota Palangka Raya